Pengalaman Belajar


A. Pola berinteraksi
Ada 3 pola berinteraksi, yaitu :
1. Reciprocal Learning ( belajar dengan saling menilai )
a. Berpasangan
Siswa ditunjuk sebagai “ pelaku” dan “pengamat “. Dalam proses pembelajaran guru menjelaskan kriteria / cara melakukan teknik yang benar dan hanya berkomunikasi dengan “pengamat”. Tugas pelaku adalah melakukan gerakan yang di inginkan. Tugas pengamat adalah mengamati dan memberi penilaian terhadap gerakan yang dilakukan. Kriteria penilaian biasanya diidentifikasikan pada buku penilaian.

b. Kelompok kecil
Jika kelompok terdiri dari 3 siswa, siswa dibagi menjadi “ pelaku” pengumpan” dan “pengamat”. Pengumpan di tugaskan sebagai pengumpan dalam melakukan gerakkan.

2. Simulasi dan peraturan permainan
Simulasi dan peraturan permainan dalam pendidikan jasmani terdiri dari kerterampilan sosial yang sederhana sampai keterampilan yang kompleks. Langkah-langkah dalam memberikan peraturan permainan :
a. Pengantar : menjelaskan nama, manfaat dan tujuan permainan.
b. Input : diskripsikan situasi permainan
c. Materi interaksi : menjelaskan cara atau peraturan permainan.
d. Penutup : analisa dan evaluasi permainan yang baru saja dilakukan.
e. Penilaian : melakukan penilaian terhadap permainan tersebut.

3. Belajar Bekerjasama
Menurut Sieden ( 1991 ), karakteristik kerjasama antara lain :
a. Aktivitas siswa memerlukan teman lainnya dalam mencapai tujuan kelompok.
b. Kemampuan akuntabilitasindividual berkembang
c. Kelompok adalah heterogen yang terdiri dari perbedaan level keterampilan, jenis kelamin, ras, dan latar belakang.
d. Dalam kerjasama terdapat komunikasi antar tim dengan memberikan respon umpan balik.
e. Tiap kemompok adalah penentu. Individu dalam kelompok menentukan kesuksesan kelompok tersebut.

B. Mengakomodalsi siswa yang istimewa
1. Budaya berabagai macam siswa
2. Pendidikan multikultural artinya dalam pendidikan tersebut nampak perbedaan –perbedaan antar siswa terutama yang “lemah” dan yang “kuat”. Siswa yang mioritas atau kekurangan seharusnya tidak berpikir bahwa mereka tidak bagus / jelek atau menghilangkan kebiasaannya, tetapi harus dijadikan sebagai pengalaman pribadi. Cara mendukung siswa dari lingkungan budaya yang beragam agar pertumbuhan siswa dapat meningkat adalah sebagai berikut :
a. Memberikan wewenang pada siswa untuk belajar dari pengalaman dan dapat membuat keputusan dan tindakan keterampilan sosial. Siswa yang menjadi korban dari kelompoknya akan mempunyai harapan yang tinggi pada dirinya.
b. Tandang siswa untuk mengamnil resik-esiko belajar dan mengembangakan tugas-tugas dalam mengatasi masalah ; jangan terlalu terfokus paa siswa yang minoritas setiap hari.
c. Rubahlah secara sistematis jenis-jenis pengalaman belajar. Belajar kerjasama mempunyai efek positif dalam mencapai kegiatan yang bersifat kelompok.
d. Gunakan bentuk penilaian alternatif dalam pengalaman belajar sebagai bagian dari tanggung jawab ( guru dan siswa ssebagai evaluator ) dan portofolio.
C. Siswa yang beresiko
Resiko disini artinya siswa yang dalam bahaya kegagalan untuk menyelesaikan pendidikannya dengan tingkatan keterampilan yang cukup atau dikeluarkan dari sekolah sebelum bias mencapai keterampilan yang diinginkan oleh masyarakat.
Menurut Galatthorn ( 1993), cara efektif untuk meningkatkan penampilan siswa yang beresiko adalah sebagai berikut :
1. Reciprocal learning : siswa secara bertahap menerima aturan yang diberikan oleh guru.
2. Cooperative Learning : tanggung jawab dan penentuan keputusan merupakan pencapaian utama dalam cooperative learning.
3. Tutoring : belajas secara pribadi dengan guru merupakan salah satu cara efektif untuk siswa yang beresiko gagal.

4. Use Of Technology : penggunaan teknologi seperti laptop, computer, kamera digital, DVD player, VCD player, merupakan salah satu cara efektif untuk siswa yang beresiko sehingga dapat mempertinggi penentuan keputusan siswa.

D. Bakat dan Talenta
Pada jaman dahulu, hasil tes IQ yang tinggi mengindikasikan bahwa siswa tersebut memiliki talenta atau kecerdasan dengan kata lain “ bakat “. Namun tes IQ telah dikeritik karena tidak dapat dipercaya dan tidak syah sebagai sesuatu yang dapat mengukur tingkat inteligensi / kepintaran seseorang, tidak sensitif trehadap kreatifitas, hanya fokus pada proses pemikiran yang rendah dan beberapa tipe kecerdasan. Menurut Gaedner ( 1993 ), kecerdasan dibagi menjadi 7, yaitu :
1. Bahasa
2. Music
3. Logika matematika
4. Sosial
5. Keterampilan gerak
6. Hubungan antar perseorangan
7. Hubungan pribadi.

Anda memiliki kewajiban untuk merancang pengalaman belajar yang akan menantang siswa berbakat dalam pengaturan yang heterogen. Galtthorn merekomendasikan 2 strategi secara untuk itu, antara lain :
1. Langkah-langkah mempercepat
Memungkinkan siswa berbakat untuk maju lebih cepat melalui tugas belajar. Anda mungkin ingat bahwa pilihan langkah digambarkan sebagai metode individualisasi. Modul Belajar dapat memfasilitasi kemajuan individu melalui tugas mandiri, kontraktor, pembelajaran yang terprogram, kegiatan belajar paket, studi mandiri, dan belajar dengan bantuan teknologi
2. Memperlengkapi pengayaan.
Pikirkanlah pengalaman belajar untuk siswa yang berbakat; yang lebih luas atau lebih mendalam dibanding pengalaman yang biasa. Pilihan isi dan pilihan tingkat kesukaran mungkin dapat digunakan untuk tujuan ini. Pelajaran timbal balik dapat efektif jika menggunakan kelompok kecil. Suatu kelompok kecil bagi empat sampai enam siswa dapat bekerja sama dalam suatu kelas biasa dengan mengedepan area atau topik khusus. pembelajaran cooverative adalah benefical untuk para siswa berbakat jika digunakan dengan bijaksana, memastikan bahwa penggunaan berlebihan tidak membatasi pertumbuhan. Menurut Jingsaw struktur adalah memberi penggunaan para siswa sebagai tenaga ahli
Jika ada pertanyaan silahkan tulis komentar di kolom komentar artikel atau chat menggunakan fitur chatting di pojok kanan bawah layar anda.
Bagikan ke Google Plus

Penulis : Unknown

0 comments:

Post a Comment